Saat memulai investasi reksa dana, kamu akan dihadapkan pada dua strategi umum: investasi rutin (berkala) dan investasi sekali beli (lumpsum).
Kedua strategi ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi, mana yang lebih cocok untuk kamu?
Di artikel ini, kita akan membahas secara lengkap strategi ini, disertai contoh sederhana agar lebih mudah dipahami.
Apa Itu Investasi Rutin (Berkala)?
Investasi rutin berarti kamu menyisihkan sejumlah uang secara teratur, misalnya setiap bulan, untuk membeli reksa dana.
Strategi ini juga dikenal sebagai Dollar Cost Averaging (DCA).
Contoh: Kamu menginvestasikan Rp500.000 setiap tanggal 10 setiap bulan, tanpa mempedulikan apakah harga reksa dana sedang naik atau turun.
Kelebihan Investasi Rutin
- Membentuk kebiasaan disiplin dalam menabung dan berinvestasi.
- Mengurangi risiko timing pasar karena kamu tidak perlu menebak kapan harga terbaik.
- Manfaat harga rata-rata: saat harga turun kamu beli lebih banyak unit, saat harga naik kamu beli lebih sedikit, sehingga harga rata-ratanya stabil.
- Terjangkau: Cocok untuk kamu yang punya penghasilan tetap dan ingin investasi dengan nominal kecil.
Kekurangan Investasi Rutin
- Jika pasar naik tajam, hasil investasinya bisa lebih kecil dibanding sekali beli di awal.
- Butuh komitmen jangka panjang dan konsistensi.
Apa Itu Investasi Sekali Beli (Lumpsum)?
Investasi lumpsum berarti kamu langsung menyetor dana besar sekaligus untuk membeli reksa dana.
Strategi ini biasa dilakukan oleh orang yang punya dana lebih besar sejak awal, misalnya dari hasil penjualan aset, bonus kerja, atau warisan.
Contoh: Kamu memiliki Rp10 juta dan langsung membeli reksa dana pada satu waktu tertentu.
Kelebihan Investasi Sekali Beli
- Potensi imbal hasil lebih tinggi jika kamu membeli saat harga reksa dana masih murah dan pasar naik setelahnya.
- Langsung bekerja penuh: seluruh dana langsung diinvestasikan dan berpeluang tumbuh sejak awal.
- Sederhana dan cepat: tidak perlu jadwal berkala atau transfer rutin setiap bulan.
Kekurangan Investasi Sekali Beli
- Risiko timing pasar lebih besar: jika kamu beli saat harga tinggi dan pasar turun setelahnya, potensi kerugiannya langsung terasa.
- Tidak cocok untuk pemula yang masih belajar atau takut kehilangan uang banyak sekaligus.
- Terkadang membuat investor khawatir dan ingin buru-buru mencairkan ketika harga turun.
Ilustrasi Sederhana: Mana yang Lebih Baik?
Bayangkan dua orang, Andi dan Budi:
- Andi berinvestasi Rp1 juta per bulan selama 12 bulan (total Rp12 juta)
- Budi langsung investasi Rp12 juta sekali beli di bulan pertama
Jika pasar naik stabil, Budi akan untung lebih banyak. Tapi kalau pasar fluktuatif dan turun di awal, justru Andi yang mendapat harga rata-rata lebih murah.
Jadi, Strategi Mana yang Cocok untuk Kamu?
Tidak ada jawaban pasti. Pilihan strategi tergantung pada kondisi keuangan, tujuan investasi, dan kenyamanan kamu sebagai investor.
Pilih Investasi Rutin Jika:
- Kamu punya penghasilan tetap setiap bulan.
- Ingin membangun kebiasaan investasi jangka panjang.
- Tidak ingin stres menebak kapan waktu terbaik beli reksa dana.
- Masih pemula dan ingin meminimalkan risiko.
Pilih Investasi Sekali Beli Jika:
- Kamu punya dana besar yang belum digunakan.
- Sudah memahami risiko dan kondisi pasar.
- Ingin langsung memaksimalkan potensi pertumbuhan dana.
Kesimpulan
Baik strategi investasi rutin maupun sekali beli punya kelebihan masing-masing.
Untuk pemula, strategi rutin sering kali lebih aman dan terjangkau. Tapi jika kamu sudah percaya diri dan punya dana lebih besar,
strategi sekali beli bisa memberikan hasil yang optimal—asal dilakukan dengan perhitungan yang matang.
Ingat, yang paling penting adalah konsistensi dan kesesuaian dengan tujuan keuangan kamu.








