Salah satu alasan utama orang berinvestasi adalah ingin mendapatkan return atau imbal hasil.
Tapi, sebenarnya apa sih arti return dalam reksa dana?
Gimana cara menghitungnya? Dan seberapa besar return yang bisa kamu harapkan?
Di artikel ini, kita akan bahas semuanya secara tuntas dan gampang dimengerti, khusus buat kamu yang baru mulai belajar reksa dana.
Apa Itu Return Reksa Dana?
Return atau imbal hasil adalah keuntungan yang kamu dapatkan dari investasi dalam periode tertentu.
Dalam reksa dana, return dihitung berdasarkan perubahan nilai NAB per unit dari waktu ke waktu.
Contoh sederhananya:
- Kamu beli reksa dana saat NAB per unit-nya Rp1.000
- Setelah satu tahun, NAB per unit naik jadi Rp1.100
- Return kamu = (Rp1.100 – Rp1.000) / Rp1.000 = 10%
Jenis Return yang Perlu Kamu Tahu
- Return Absolut
Ini adalah selisih langsung antara harga beli dan harga saat ini.
Contoh: dari Rp1.000 ke Rp1.200 = return absolut 20% - Return Tahunan (Annualized Return)
Menggambarkan rata-rata pertumbuhan per tahun, terutama jika investasi berjalan lebih dari satu tahun.
Contoh: naik 100% dalam 3 tahun = annualized return sekitar 26% - Return Historis
Return yang terjadi di masa lalu. Sering ditampilkan dalam grafik atau tabel performa reksa dana.
Bagaimana Cara Mengukur Return Reksa Dana?
Kamu bisa menghitung return dengan rumus berikut:
Rumus Return = ((NAB per unit akhir – NAB per unit awal) / NAB per unit awal) × 100%
Contoh kasus nyata:
- Beli reksa dana di bulan Januari 2024 dengan NAB per unit Rp1.500
- Di bulan Januari 2025, NAB per unit jadi Rp1.800
- Return = ((1.800 – 1.500) / 1.500) × 100% = 20%
Artinya, investasimu tumbuh 20% dalam 1 tahun.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Return
- Jenis Reksa Dana – Reksa dana saham punya potensi return lebih tinggi, tapi juga lebih fluktuatif. Reksa dana pasar uang lebih stabil, tapi return lebih kecil.
- Kondisi Pasar – Return bisa naik turun tergantung pergerakan ekonomi, suku bunga, dan pasar modal.
- Kinerja Manajer Investasi – Manajer yang andal biasanya bisa mengelola aset dengan strategi yang menghasilkan return optimal.
- Waktu Investasi – Makin lama kamu berinvestasi, makin besar peluang return bertumbuh secara optimal.
Apakah Return Bisa Dijadikan Patokan Memilih Reksa Dana?
Return memang penting, tapi jangan jadikan itu satu-satunya pertimbangan.
Kamu juga perlu melihat:
- Risiko – Return tinggi biasanya datang dengan risiko tinggi.
- Stabilitas performa – Lihat apakah reksa dana tersebut konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
- Manajer Investasi – Siapa yang mengelola dana kamu juga penting untuk dinilai.
Return Reksa Dana vs Tabungan Biasa
Buat gambaran, berikut perbandingan umum return:
- Tabungan Bank: ±0,5–1% per tahun (belum potong biaya admin)
- Deposito: ±3–4% per tahun
- Reksa Dana Pasar Uang: ±4–6% per tahun
- Reksa Dana Pendapatan Tetap: ±5–8% per tahun
- Reksa Dana Campuran: ±7–10% per tahun
- Reksa Dana Saham: ±10–15% atau lebih, tergantung kondisi pasar
Tentu ini hanya gambaran umum. Realisasi return bisa berbeda tergantung situasi pasar dan waktu investasi kamu.
Tips Agar Return Reksa Danamu Optimal
- Investasi jangka panjang agar potensi return maksimal
- Reinvestasikan hasil keuntungan (compound effect)
- Jangan panik saat pasar turun – fluktuasi itu wajar
- Pilih reksa dana sesuai profil risiko dan tujuan keuanganmu
Kesimpulan
Return reksa dana adalah indikator utama untuk melihat seberapa besar hasil investasi kamu.
Tapi jangan hanya terpaku pada angka return — pahami juga risikonya, konsistensinya, dan apakah cocok dengan tujuan keuanganmu.
Mulai sekarang, yuk lebih kritis saat melihat data return. Jangan asal tinggi, tapi pastikan kamu tahu dari mana datangnya!
Ingat: Investasi yang baik bukan yang paling cepat untung, tapi yang paling cocok dengan rencana hidupmu.








